Selasa, 22 April 2014


Love from Heaven

Karya : Adila Apriliyanawati (@dilapriliya –on twitter, Dhilla Apriliya – on facebook)

“Reysha!!” pekik Nafa sambil berlarian dari arah belakang.

“Ada apa Naf? Kok lari-larian segala?” Tanya Reysha keheranan.

“Ada apa- ada apa.. lo tu yang ada apa” ucap Nafa kesal. Reysha hanya mnegerutkan keningnya tanda tak mengerti.

“ishh dari tadi tu gue nyariin lo tau gak.. sampe puyeng pala gue muter-muter ni sekolah” dengus Nafa sambil memproutkan bibirnya.

“hehe.. ngapain lo nyariin gue? Harusnya lo tadi langsung kekelas aja keleuss.. ” jawab Reysha santai.

“udah tapi kaga ketemu..” “iya deh sorry tadi soalnya ada urusan dikit” “gue mau cerita..” ucap Nafa semangat tapi.. kkrruuccukk

“eh suara apaan tuh?” gurau Reysha

“ehehe muter-muter sekolah bikin perut gue kroncongan..” jawab Nafa cengengesan.

“napa nggak sekalian aja dangdutan.. biar rame gitu.. haha ya udah kantin yuk” canda Reysha. Reysha memang terkenal dengan gadis yang ceria dan baik hati, tak salah jika Nafa memilihnya untuk menjadi sahabatnya.

 

“nah sekarang lo mau pesen apa? Gue bayarin deh..” ucap Reysha.

“wiihh serius lo? Oke deh siip-siip.. gue pesen bakso 1 ama es jeruknya ya.. hehe” jawab Nafa dengansemangat 45, seketika lupa akan niatnya yang ingin bercerita sesuatu.

Reysha hanya mengedipkan sebelah matanya lalu pergi memesan.

Reysha kembali membawa satu nampan berisi pesanan Nafa, namun langkahnya terhenti ketika mendapati Nafa sedang bergurau ria dengan Vian, laki-laki yang selama ini Reysha sukai secara diam-diam, bahkan Nafa pun tak tahu soal itu. Mereka berdua (Nafa dan Vian) terlihat bahagia tanpa beban. Sejenak Reysha mengatur nafasnya yang tadi sempat terhenti karena melihat kedekatan Nafa dan Vian. Lalu melanjutkan langkahnya lagi.

“hey.. sorry lama.. eh ada Vian juga? Yah sorry ya gue gak pesen makan lebih..” ucap Reysha dengan senyum getirnya lalu duduk disamping Nafa.

“eh gapapa kok.. gue kesini Cuma mau nemuin Nafaku sayang..” ucap Vian tersenyum sambil memegang kedua tangan Nafa.

Ucapan Vian tersebut sontak membuat Reysha terbelalak kaget. ‘Nafaku sayang? Apa-apaan ini?’ batin Reysha. Menyadari perubahan wajah pada Reysha, sejurus kemudian Nafa menceritakan hal yang ingin ia ceritakan tadi. Dan ternyata ia (Nafa) dan Vian resmi pacaran kemarin sore. Reysha hanya tersenyum hambar melihat keduanya.

“wahh.. longlast ya buat kalian..” hanya kata itu yang mampu Reysha ucapkan karena bibirnya terasa bergetar untuk berbicara. Lalu tersenyum meninggalkan Nafa dan Vian berdua di tengah kantin, tanpa pamit, namun itu tak berefek bagi mereka karena mereka masih larut dalam rona kebahagiaan.

Reysha merasakan bahunya bergetar hebat dengan air mata yang sudah tak terbendung lagi. Tak peduli beberapa siswa yang melihatnya heran karena tingkahnya yang menangis didepan umum.

‘Tuhan.. kenapa harus sahabatku sendiri Tuhan?’ batin Reysha menjerit disela erangannya. Tiba-tiba ia merasakan kepalanya pening hebat, perlahan pandangannya kabur, dan.. BRUK!!

 

Reysha mengerjap-ngerjapkan matanya walaupun berat, yang ia rasakan sekarang hanya kepala yang berat dan badan yang lemas. “engghh” desah Reysha.

“Reysha!! Syukurlah lo udah sadar.. gue khawatir sama lo.. sorry tadi gue gak merhatiin lo..” sesal Nafa.

Reysha tersenyum melihat tingkah sahabatnya ini. “iya gapapa kok Naf..” reysha bertahan dengan senyum di bibir pucatnya.

 

Sesampainya dirumah..

Reysha terduduk dikursi meja belajarnya lalu menuliskan sesuati ditempat ia mencurahkan isi hatinya, diary. Karena selama ini ia jarang sekali curhat ke Nafa.

‘Dear God..

Tuhan.. kuharap Kau memberiku waktu lebih untuk melihat sahabatku bahagia meski hati ini perih..

Tuhan.. jika Kau tak mengizinkanku tuk bahagia bersama Vian, ikhlaskan lah hati ini untuk menerimanya..

Tuhan.. sakit rasanya melihat mereka,, sakit ini lebih sakit dari penyakit yang kuderita kini.. kumohon kuatkan aku Tuhan..

Tuhan.. semoga Engkau memberiku hari esok lebih baik dari hari ini.. aku masih ingin melihat kebahagiaan terpancar dari orang yang aku sayangi dihari istimewaku Tuhan.. J

_13 Februari 2013_ Fahira Reysha’

Setelah menuliskan itu Reysha kembali merasakan berat dikepalanya disertai darah segar mengalir dari hidungnya. Ia terjatuh dari kursinya, ‘Tuhan.. apa lagi ini.. aku tak kuat..’ batin Reysha menjerit, ia segera meraba-raba meja didepannya dan.. dapat. Sesegera mungkin ia meneguk obatnya lalu ia membenahi posisinya ditempat tidur agar tak ada yang mengerti betapa menderitanya dirinya. Orang tua Reysha memang tak mengetahui tentang penyakit Reysha tersebut karena mereka terlalu sibuk dengan pekerjaan mereka di luar kota.

 

Keesokan harinya..

Reysha menenggelamkan kepalanya dalam lipatan tangan yang ia buat diatas mejanya, karena yang ia rasakan kini kepalanya begitu berat, mata sembab, dan badan lemas, serta dengan wajah pucat.

“Reysha!! Lo kok masuk sih? Lo kan belum sembuh bener..” celoteh Nafa yang melihat kondisi tidak vit sahabatnya ini.

“gakpapa ko Naf, lagian gue masih kuat kok..” Reysha bertahan dengan senyum di wajah pucatnya.

 

KRIINNNGGG bel pulang sekolah berbunyi nyaring..

“Naf lo mau temenin gue gak?” ucap Reysha sambil membenahi peralatannya.

“yahh.. sorry ya Rey, bukannya gue gak mau, tapi gue ada janji sama Vian” sesal Nafa yang merasa tak enak hati pada Reysha.

“yaudah gapapa kok, gue ngerti.. have fun ya..” ucap Reysha tersenyum dibalik kekecewaannya.

Reysha pergi ke apotik untuk membeli obatnya yang tadi malam habis. Setelah keluar dari apotik Reysha melihat Vian berjalan sendiri di trotoar. ‘tu bukannya Vian ya? Kok sendiri? Bukannya ada janji sama Nafa?’ batin Reysha bertanya-tanya. Namun yang membuatnya keheranan lagi yaitu ekspresi Vian yang seperti kesakitan, sesekali ia (Vian) memegangi dadanya sambil meringis. Vian menyebrang jalan namun entah mengapa ia terhenti ditengah jalan sambil memegangi dadanya, dan ringisannya terlihat menyakitkan, Reysha saja yang memperhatikan ikut meringis. Sejurus itu mobil melaju cepat dari kejauhan, mobil itu terus mengklackson, namun Vian tak kunjung beranjak dari tempatnya. Lalu.. CIITTT BRAKKKK!!!!

Vian terdorong ke trotoar dengan lengan dan kaki luka-luka, namun itu tak seberapa dengan sakit didadanya, ia sempat melihat kerumunan orang ditengah jalan, namun ia tak tahu itu apa karena ia langsung pingsan.

Rumah sakit..

Vian mengerjapkan matanya, bau obat-obatan menyeruak dihidungnya, sekarang ia tahu bahwa ia sedang berada dirumah sakit. Ia merasakan nyeri dibagian dadanya, dan ternyata ada bekas operasi disana. Ia tak tahu apa yang telah terjadi. Tiba-tiba Nafa masuk keruangannya dengan derai air mata membanjiri pipinya, lalu memeluk Vian. Vian terjengkang akibat pelukan Nafa yang secara tiba-tiba tersebut.

“kamu kenapa Naf? Kok nangis?” Tanya Vian keheranan.

“Reysha Vi.. hkss Reysha.. hkss” ucap Nafa sesegukan.

“Reysha? Dia emang kenapa?” Vian keheranan.

“dibalik keceriaannya selama ini Reysha menyimpan begitu banyak penderitaan Vi.. dia tersenyum diatas kepedihan hidupnya hkss” Lalu Nafa menyerahkan sepucuk surat berwarna Biru muda kepada Vian, perlahan Vian membukanya lalu membacanya…

‘Hay Nafa.. Hay Vian.. Longlast ya buat kalian berdua.. gue ikut seneng kalo kalian seneng. Mungkin waktu kalian baca surat ini gue udah gak ada disamping kalian, didepan kalian, atau disekitar kalian J. Oh ya gue mau jujur sama kalian berdua.. tapi sebelumnya gue minta maaf sama lo Naf.. hehe sorry ya.. sebenernya tuh gue suka sama Vian udah lamaaa banget, tapi waktu gue tau kalian udah jadian gue sakit banget L.. gue nyoba ngikhlasin Vian buat sahabat gue sendiri,, kan gak mungkin kalo gue ngerebut Vian dari lo Naf.. hehe :D peace.. apalagi setelah gue tau kalo Vian punya kelainan jantung dan dia pengen bahagia sama lo disisa hidupnya, gue malah nambah nyoba ngikhlasin lagi demi kebahagiaan kalian berdua terutama Vian J. Dengan keterbatasan gue, gue pengen Vian bahagia sama lo tanpa penyakit yang memisahkan kalian. Gue lebih seneng menderita diatas kebahagiaan orang yang gue sayang, karena itu cukup ngebuat gue bahagia bisa liat senyum dari orang yang gue sayang. Gue gak mungkin  milih salah satu diantara kalian berdua karena kalian berdua sama-sama gue sayang. Gue lebih baik pergi daripada harus ngeliat Nafa nangis karena Lo pergi Vi.. karena dengan kepergian gue kalian berdua bakal bahagia.. Nafa.. jaga perasaan Vian ya, dia cinta and sayang banget sama lo… Vian.. gue titip jantung sama sahabat gue ya.. moga kalian bahagia.. walopun  gue gak bisa nyentuh kalian tapi gue bias liat kalian dari atas sini J. Gue milih pergi daripada gue terus berjuang ama kanker gue,, tapi gue gak nyesel kok.. tenang aja.. Udah ya surat gue.. bye bye.. oh ya satu lagi kalo kalian bahagia itu jadi kado terbaik and terhebat buat gue.. gue bakal jaga perasaan kalian dari atas sini.. Love You..

Big hug and Love from Heaven -  14 Februari 2013 – Fahira Reysha’

Nafa menghambur ke pelukan Vian lagi.“dia pergi dihari istimewanya.. dia rela pergi karena dia sayang sama lo Vi… makasih dan maaf Reysha,, gue bukan sahabat yang baik buat lo.. maaf” ucap Nafa sesegukan dalam pelukan Vian


Vian meneteskan matanya diatas batu nisan yang bertuliskan

‘Fahira Reysha

14 Februari 1996

– 14 Februari 2013’

Ia menyesal karena tak pernah memperhatikan Reysha selama ini. Kemana saja ia selama ini, sampai-sampai ia tak sadar bahwa ada seorang gadis yang menyayanginya begitu tulus sapmai rela memberikan jantungnya pada diriya. “gue janji Rey.. gue bakal jagain jantung lo ini.. dan gue juga janji bakal berusaha jagain Nafa dengan jantung lo ini.. gue bakal berusaha nepatin janji gue Fahira Reysha, maaf dan terimakasih buat semuanya” ucap Vian. Sekelebat bayangan putih terpancar didepan Vian, bayangan itu tersenyum pada Vian lalu mengucapkan terimakasih. Vian tersenyum lalu meninggalkan makam Reysha.

 

~END~

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar